Rekomendasi KPU Lebak : “Bentuk Lembaga Pendidikan Pemilih di Setiap Tingkatan!”

PEMBENTUKAN lembaga pendidikan pemilih kini jadi kebutuhan. Angka partisipasi pemilih dan kualitas pemilih harus dipikirkan lebih serius lagi untuk dan demi hasil penyelenggaraan pemilu yang lebih baik. Salah satu indikator keberhasilan penyelenggaraan pemilu adalah angka partisipasi pemilih yang cukup signifikan.

Demikian Ketua KPU Kabupaten Lebak, Ahmad Saparudin, S.Ag. M.Si. dalam acara Silaturahim Wartawan – KPU Lebak, saat bedah hasil penelitian perilaku pemilih, di kantor KPU Kabupaten Lebak, Kamis kemarin (17/09/15).
Angka partisipasi pemilih itu, kata Saparudin selanjutnya, sekaligus secara politis jadi indikasi legitimasi oleh rakyat pemilih. “Semakin besar angka partisipasi pemilih, bisa dimaknai pula semakin besarnya kesadaran warga dalam penggunaan hak-hak politiknya,” kata Saparudin pula.

Silaturahim Pers – KPU Lebak itu sendiri diselenggarakan menyusul rampungnya penyusunan hasil penelitian dan penulisan buku tentang perilaku pemilih sebagai tema penelitian di Kabupaten Lebak.

KPU Lebak, selama tiga bulan terakhir (Juni – Agustus 2015), melakukan penelitian tentang perilaku pemilih. Salah satu simpulan hasil penelitian, rekomendasi pembentukan lembaga pendidikan pemilih.

Rekomendasi ini merupakan implikasi dari beragamnya faktor-faktor pendorong dalam penggunaan hak pilih. Tak dan motif tunggal. Penggunaan hak pilih selalu beragam, tak seragam.

“Kita ingin, mendorong masyarakat jadi pemilih cerdas seperti yang sering kita kampanyekan selama ini pada setiap sosialisasi pemutakhiran data dan daftar pemilih,” kata Saparudin. “Kita ingin, KPU yang lebih baik pemilih yang lebih baik, sekaligus calon yang lebih baik,” tambah Saparudin.

Model, Modul, dan Metode
Lembaga pendidikan pemilih KPU harus dibangun di setiap tingkatan, di pusat provinsi, dan KPU kabupaten/kota. Kata Ketua Divisi Perencanaan Program dan Data KPU Lebak Apipi S.Pd.I.,, lembaga pendidikan pemilih ini harus dibangun secara permanen, berkelanjutan, dengan program-programnya yang mencerahkan dan mencerdaskan.

“Apa pun dalam setiap pemilu atau pilkada, rakyat adalah eksekutornya, :” kata Apipi. “Mereka harus cerah atau bergembira saat menuju tempat pemungutan suara dan sedkaligus mereka tahu persis siapa yang seharusnya dipilih berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang sedhat,” kata Apipi lagi.

Oleh karena itu demikian Apipi, lembaga pendidikan pemilih harus punya model dengan modul-modul pendidikan pemilih yang “enak dibaca dan perlu”. Metode pendidikan pemilih akan selalu dinamis disesuaikan dengan perkembangan zaman serta dilihat pula siapa sasaran pendidikan pemilih itu. Latar belakang budaya, pendidikan, ekonomi, dan lingkungan sosial akan mengin siparsikan pengemasan metode pendidikan yang berbeda-beda. Maka, mendidik itu adalah seni juga, seni mendidik, seni menyampaikan pesan kepada orang lain.

“Model yang tepat, modul yang tepat, dan metode yang tepat akan melahirkan lembaga pendidikan pemilih yang khas, pantas, cerdas, dan berkualitas” kata Apipi. “Kita menuju ke situ,” tambahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *