Minggu, 17 Desember 2017

Ada Apa dengan Pemilih di Kabupaten Lebak?

ITU bukan judul film atau judul  puisi, melainkan judul sebuah buku  yang ditulis Tim Peneliti KPU Kabupaten Lebak. Soal mengapa judulnya seperti itu, hanya sekadar ingin menarik perhatian pembaca saja. Kalau meminjam Max Havelaar “aku ingin dibaca”, maka buku ini pun ditulis untuk  dibaca,  untuk dicari-cari kesalahannya pun boleh.

Maka, dengan senang hati, Tim Peneliti akan menerima kritik arau resensi buku itu kalau sudah terbit, dan rencananya memang akan diterbitkan untuk menunjang sosialisasi dan pendidikan pemilih untuk menyukseskan pilkada gubernur dan wakil gubernur Banten yang semakin dekat. Itu pun kalau ada dananya.

Buku ini ditulis berdasarkan hasil penelitian yang tentu saja ditulis menurut kaidah-kaidah penulisan ilmiah. Mengapa ditulis begitu? Karena tuntutan dari KPU kepada KPU kabupaten/kota se-Indonesia, termasuk KPU Lebak. Nah, supaya hasil penelitian itu dibaca banyak orang, atau orang banyak, maka ditulislah  dalam bentuk buku dengan bahasa popular tentu saja. Lahirlah judul buku yang menggunakan bahasa popular itu : Ada Apa dengan Pemilih di Kabupaten Lebak?
Sekadar tahu saja, judul hasil penelitian yang kemudian dijadikan buku itu cukup panjang , yakni Konstruksi Realitas Perilaku Pemilih pada Pemilihan Umum Tahun 2014 di Kabupaten Lebak (Sebuah Penelitian dengan Pendekatan Teori Konstruksi Realitas Secara Sosial Model Peter Ludwig Berger dan Thomas Luckmann).

Hasil penelitian itu setebal 244 halaman kuarto. Ada lima bab sebagaimana lazimnya sebuah hasil penelitian ilmiah untuk tesis. Ya, ini dianggap di atas skripsi dan di bawah disertasi. Disebut tesis karena memang ada studi pustaka, ada teori-teori. Mengapa ditulis seperti tesis? Karena memang itulah tuntutan tersirat KPU, seperti dalam suratnya yang berisi pedoman penyusunan riset.

Dari hasil penelitian itu, setelah dijadikan buku, jadilah 146 halaman kuarto, tetapi dengan 10 bab. Tak ada batasan bab dalam buku. Untuk karya ilmiah, seperti skripsi atau tesis, lazimnya memang, hanya lima bab dengan bab akhir (lengkapnya) terdiri dari simpulan, implikasi, dan rekomendasi.

Bab demi Bab
Dari 10 bab dalam buku ini, sebetulnya hanya terdiri dari tiga bagian penting, yakni mukadimah, proses penelitian, dan hasil penelitian. Mukadimah bisa dilihat pada bab I sampai bab IV. INI pengantar yang dipoles dari latar belakang masalah (LBM). Dari bab V sampai bab VIII merupakan proses penelitian, berisi paradigma dan teori. Bab IX merupakan aspirasi dan suara hati, berisi masukan dan masakan dari pihak eksternal KPU, juga hasil wawancara dan observasi denagn narasumber.  Bab X merupakan penutup yang terdiri dari simpulan, implikasi dan  rekomendasi.

Simpulan berisi bahwa perilaku pemilih di Kabupaten Lebak khususnya beragam, berbagai motif  muncul menjelang penggunaan hak pilih. Pemilh rasional  ada di wilayah perkotaan sedangkan pemilih tradisional ada di wilayah pedesaan. Di antara kedua tipe itu, ada habit behavior pemIlih yang menggunakan hak pilih  karena memang jadi kebiasaan.

Di lingkungan masyarakat adat berlaku monoloyalitas tunggal alias patuh kepada pemuka adat. Ini sebetulnya bukan khusus untuk penggunaan hak pilih saja. Dalam banyak hal, pemuka adat jadi demikian sentral untuk diikuti dan dipatuhi petuahnya.

Maka dengan membaca simpulan,  akan terjawablah judul buku Ada Apa dengan Pemilih di Kabupaten Lebak? Ya ada pemilih yang masuk kategori pemilih tradisional, pemilih yang masuk kategori perilakui rasional pemilih yang masuk kategori perilaku habitg behavior, dan lain-lain.

Implikasi terdiri dari implikasi teoritis dan implikasi praktis. Perilaku pemilih di Kabupaten Lebak khususnya tentu masih bisa terus diteliti dengan cara pandang dan ciri pandang yang berbeda. Perilaku pemilih pun akan berguna untuk para calon, antara lain, menyusun strategi kampanye dan “pilihlah aku!”.

Rekomendasi Tim Peneliti,,  satu hal yang paling penting, yakni membangun lembaga pendidikan pemilih, demi dan untuk pemilih yang cerdas. Partisipasi pemilih jadi cukup signifikan.   Semua perlu tenaga, usaha, juga biaya. (Dean Al-Gamereau)