Minggu, 17 Desember 2017

Gairah Riset Meningkat, Anggota KPU Lebak Jadi Peneliti

Gairah  riset  akhir-akhir ini meningkat  di lingkungan KPU kabupaten/kota se-Provinsi Banten khususnya.  Selama tiga bulan lalu ( Mei – Juli 2015), KPU kabupaten/kota melakukan penelitian, meliputi perilaku pemilih, politik uang, tingkat melek politik, kesukarelaan warga dalam politik, dan lain-lain.


Khusus KPU Kabupaten Lebak, demikian Ketua KPU Kabupaten Lebak Ahmad saparudin, S.Ag., M.Si, di ruang kerjanya Kamis kemarin (17/09/17), tema risetnya adalah perilaku pemilih. “Meneliti perilaku pemilih di kabupaten yang beragam latar belakang budaya, pendidikan, ekonomi, strata sosial, lebih penting dari tema riset yang lain. “Pemilihan tema perilaku pemilih hasil rapat pleno” kata Saparudin.

KPU Kabupaten Lebak sendiri merasa lebih leluasa melakukan riset itu karena tak melaksanakan tahapan pilkada serentak seperti beberapa KPU kabupaten/kota yang lain. Beberapa KPU kabupaten/kota mengadakan keerja sama dengan perguruan tinggi setempat, artinya, di-pihak ketiga-kan dan ini memang diperbolehkan” kata  Saparudin. “Jadi KPU Lebak melakukan penelitian secara mandiri, karena memang sedang punya waktu yang cukup,” kata Saparudin pula.

Desain Riset
Untuk melaksanakan riset  itu, KPU Lebak membentuk Tim Peneliti Perilaku Pemilih, diketuai C.R. Nurdin. Hasil rapat pleno mengisyaratkan agar riset benar-benar dilakukan secara maksimal, dengan hasil riset yang bisa dipertanggungjawabkan.

Apalagi hasil riset ini akan dijadikan pula bahan masukan untuk perumusan kebijakan dan penyusunan keputusan KPU dalam kaitannya dengan pemilih dan perilaku pemilih. “Alhamdulillah, rasanya, kami sudah bekerja maksimal. Adanya kekurangan, itu pasti karena memang kami punya keterbatasan dan kekurangan,” kata Nurdin.

Dengan adanya tugas riset itu, kata Nurdin, rasanya ada gairah yang bangkit lagi dalam lapangan riset. “Kami semua pernah menyusun karya ilmiah seperti skripsi atau tesis. Jadi, kami tak terlalu asing dengan langkah-langkah atau penyusunan desain riset,” kata Nurdin.

Menyebarkan Kuisioner, Menyuburkan Wawancara
Tim Peneliti Perilaku Pemilih membentuk enam subtim. Keeenam subtim ini  menyebar  ke enam daerah pemilihan. Setiap tim membawa 25 lembar kuisioner dan lembar wawancara berstruktur.  Ketua subtim yang juga anggota KPU Lebak ditugasi pula melakukan wawancara mendalam dan observasi. Dengan wawancara dan observasi, subtim diharapkan membawa hasil dokumentasi bahan riset yang lengkap. Terutama wawancara dan observasi, demikian Nurdin, sangat ditekankan karena  jadi bahan penting dalam prosesi riset.

Hasil Riset
Tim Peneliti menyimpulkan bahwa perilaku pemilih di Kabupaten Lebak tidaklah tunggal, tetapi beragam – tak seragam. Artinya, ada banyak motif dalam penggunaan hak pilih, termasuk  motif uang atau lebih populer lagi karena adanya money politic. Hasil wawancara Tim Peneliti, ada pula yang mengaku uangnya diambil, tetapi calon yang dipilih orang lain, karena memang mengedepankan nurani, dna terpengaruh oleh slogan “Ambil uangnya, jangan pilih orangnya”. Bagi sejumlah orang, pesan-pesan itu amat serius.

Pemilih tradisional, pemilih ideologis, pemilih rasional, berdasarkan hasil observasi, ada pula di Kabupaten Lebak, meski memang buka khas hanya ada di Lebak saja. Ini ciri umum di mana-mana, seperti hasil studi pustaka yang dilakukan Tim Peneliti.

Perilaku pemilih monoloyalitas tunggal, pilihan berdasarkan kesamaan agama atau ideologi, lumrah terjadi di mana-mana.  KPU  Lebak khususnya belum mampu menjelaskan mengapa pemilih A bermotif ideologi, sedangkan pemilih B bercotak  tradisional, dan lain-lain. Diakui Nurdin, ini hanya bisa dilakukan dengan metode explanatory, bukan dengan metode deskripsi seperti yang dilakukan Tim Peneliti Perilaku Pemilih KPU Lebak. “Yang kami butuhkan adalah  pemetaan dan tipologi, dan oleh karena itu menggunakan metode kuaitatif deskripti,” kata Nurdin. “Kelak, hasil penelitian akan dijadikan bahan penyusunan kebijakan pendidikan pemilih. Sesuai dengan kebiasaan, lazimnya penelitian deskriptif itu  untuk sesuatu kebutuhan. Sesuatu Kabutuhan KPU itu, yakni pemetaan dan tipologi itu tadi,” tambah Nurdin. “Apa pun kegiatan ini membangkitkan kembali gairah kami dalam riset. Banyak istilah-istilah yang lupa-lupa ingat kemudian jadi ingat lagi. Kami harus melawan lupa selama prosesi riset,” pungkas Nurdin anggota KPU Lebak yang membidangi hukum dan sosialisasi ini.(Dean Al-Gamereau)