Minggu, 17 Desember 2017

Wawancara :

Tradisi baru di Lingkungan KPU Agar Perumusan Kebijakan  Berbasis Hasil Penelitian


KPU Kabupaten Lebak bersama-sama dengan KPU kabupaten/kota lainnya mengadakan penelitian (riset) dengan segala variabelnya, ada politik uang, tingkat melek politik warga,  perilaku pemilih, dan lain-lain. KPU Kabupaten Lebak memilih tema penelitian perilaku pemilih.  Inilah wawancara koran Rakyat Banten,  Afrizal Tanjung dengan Ketua KPU Kabupaten Lebak, Ahmad Saparudin, S.Ag., M.Si.

 

Ada apa sebenarnya dengan penelitian di Kabupaten Lebak?
Penelitian ini dilakukan secara nasional, di setiap kabupaten/kota termasuk di Kabupaten Lebak, dengan KPU setempat sebagai penelitinya. KPU menginstruksikan seperti itu. Dari surat yang saya baca KPU ingin membangun tradisi baru. Bahwa perumusan kebijakan atau pengambilan keputusan harus berbasiskan hasil penelitian. Kebijakan atau keputusan di sini terutama berhubungan dengan partisipasi pemilih, perilaku pemilih dan pendidikan pemilih.


Penelitian di Kabupaten Lebak sendiri bagaimana!
Alhamdulillah! Sudah selesai. Baik penyusunan laporannya, maupun pembuatan bukunya,  dalam bentuk perangkat lunak dan  dalam bentuk perangkat keras (fisik buku) sudah diserahkan ke KPU Provinsi Banten dan KPU. Kami melakukan penelitian selama tiga bulan, dari Mei sampai Juni 2015.  Selesai tepat waktu.


Mengapa memilih tema perilaku pemilih?
Ada alasan objektif dan alaasn subjektif. Alasan objektifnya adalah  pemilih adalah “rukun” pemilu. Tak akan ada pemilu tanpa pemilih. Angka partisipasi pemilih yang rendah menunjukkan rendahnya warga yang menggunakan hak-hak politknya.  Banyak faktor yang memengaruhinya.
Motivasi penggunaan hak pilih pun beragam, tak akan pernah tunggal. Alasan subjektifnya, bahwa tiga orang dari lima anggota KPU Kabupaten Lebak itu wartawan.


Kita tahu, wartawan itu tukang membangun kata-kata, tukang merangkai kalimat. Nah perilaku pemilih ini bisa diteliti dengan metode penelitian kualitatif yang berbasiskan kata-kata. Tetapi,  apa pun, pemilihan tema perilaku pemilih berdasarkan rapat pleno.


Cara KPU Lebak melaksanakan penelitian itu, bagaimana?
KPU Kabupaten Lebak membentuk sebuah tim, diberi nama Tim Peneliti KPU Kabupaten Lebak, diketuai Sdr. C.R. Nurdin. Ada tim yang bergerak penyusunan desain penelitian, studi pustaka, wawancara, observasi, pengolahan data, bahkan triangulasi data dan focus group discussion (FGD) dan lain-lain.


Untuk melengkapi hasil peneltian, kami minta masukan penjelasan penegasan atau apa pun keterangan dari Bupati Lebak H. Iti Octavia Jayabaya S.E. M.M., Ketua DPRD Kabupaten Lebak Junaedi Ibnu Jarta, Ketua MUI Kabupaten Lebak K.H. Achmad Syatibi Hambali dan analis politik dan perubahan sosial H. Agus Sutisna S.I.P. M.Si. (ketua anggota KPU Lebak  2008 – 2013 dan  2013 - 2014).


Hasil penelitian seperti apa?
Hasil penelitian dirangkum dalam bab terakhir, bab v  dalam laporan hasil penelitian. Dalam bab terakhir, kami membagi tiga bagian. Pertama simpulan Kedua implikasi. Ketiga, rekomendasi.


Bisa Anda jelaskan simpulan hasil penelitian?
Untuk simpulan, seperti sudah saya katakan sebelumnya,, bahwa motivasi penggunaan hak pilih itu tidaklah tunggal, tetapi banyak faktor yang memengaruhinya, sehingga ada pemilih ideologis, pemilih rasional, pemilih skeptis, pemilih tradisional, pemilih ideologis, dan pemilih pragmatis. Tipelogi pemilih itu hasil library research. Ini  bukan  khas di Kabupaten Lebak,  melainkan ada di  mana-mana.


Ada temuan spesifik tentang perilaku pemilih di Kabupaten Lebak?
Inilah yang barangkali bisa dimasukkan atau dikategtorikan pada kategori tipelogi pemilih yang sudah ada atau malah menambah kategori pemilih. Hasil penelitian kami, ada habit behavior, artinya pemilih yang menggunakan hak pilih itu karena memang sudah jadi kebiasaan menggunakan hak pilih tanpa bersentuhan dengan  visi atau misi calon.


Pokoknya, memilih kumaha hate. Titik! Mereka sudah berkali-kali menggunakan hak pilih, baik pemilu pilkada, juga pilkades. Ikut pemilu jadi kebiasaan.
Ada lagi perilaku pemilih monoloyalitas tunggal. Mereka selalu mengikuti sikap pemuka adat. Oleh karena itu, tentu kita tak heran, di TPS-TPS tertentu dalam wilayah masyarakat adat, sering terjadi dominasi perolehan suara oleh calon-calon tertentu. Masalahnya, mereka mengikuti figur atau tokoh panutan mereka.


Di lingkungan pesantren, penggunaan  hak pilih berbasiskan hasil ijtihad, hasil berpikir dengan rujukan kitab-kitab klasik Islam. Simpulannya, menggunakan hak pilih itu ibadah, pantas dimulai dengan bismillah karena memilih pemimpin termasuk ibadah ghayr mahdlah (ibadah yang tata cara, upacara, dan cara-caranya tak ditentukan secara khusus oleh hadis).


Temuan atau simpulan yang lain?
Kami menemukan pula antusiasme yang cukup signifikan dalam penggunan hak pilih dalam pilkades, seperti yang baru saja dilakukan secara serentak di Kabupaten Lebak, akhir Agustus kemarin. Sebelumnya, berdasarkan dugaan dan hasil wawancara, pilkades memang lebih meriah. Kami saksikan buktinya pada pilkades serentak kemarin. Kami terinspirasikan pula agar antusiasme warga dalam pilkada atau  pemilu tak kalah leh antusiasme warga dalam pilkades.


Tentang golongan putih (golput),  di KPU Kabupaten Lebak?
Golput, saya kira, sikap politik. Orang yang mau menggunakan hak pilihnya, tetapi kemudian  ada alangan tiba-tiba sakit misalnya,  sehingga tak menggunakan hak pilih,  itu bukan  golput.


Bagi golput kesempatan menggunakan hak pilih itu tetapi dengan sengaja tak digunakan karena sesuatu sikap.
Orang yang tak mau lagi menggunakan hak pilih karena kecewa terhadap seseorang calon yang dipilihnya, itu salah satu contoh sikap politik yang berimbas pada sikap golput.


Golput jadi ancaman angka partisipasi pemilih?
Ya! Oleh karena itu, semoga para calon yang terpilih terus berusaha berkomunikasi dengan pemilihnya, sehingga kebersamaan dan silaturahim pemilih dan  calon terpilih tetap terjalin dengan baik.


Media massa berpengaruhkah untuk para pemilih?
Tim Peneliti menggunakan pula teori komunikasi massa baik, teori jarum  suntik, teori penggunaan dan pemenuhan kebutuhan,maupun  teori dua tahap. Teori yang pertama dan kedua itu berseberangan, tetapi kemudian lahir teori ketiga (teori dua tahap) sebagai antithesis dari kedua teori terdahulu.


Intinya, perisitwa atau berita di media massa yang ditangkap tokoh masyarakat, kemudian jadi sikap sang tokoh, lalu disampaikan kepada masyarakat, maka masyarakat akan mengikuti sikap sang tokoh ini.


Kalau kemudian para calon berlomba-lomba menguasai media massa, baik cetak maupun elektronik, sangat masuk akal jika dikaitkan dengan teori-teori komunikasi massa.


Tetapi, KPU Kabupaten Lebak tak  melakukan penelitian pengaruh media massa. Kalau menyebut pengaruh, maka penelitiannya  pastilah kuantitatif.  


Makna partisipasi pemilih bagi KPU?
Itu sangat penting. KPU Kabupaten Lebak misalnya memberikan hadiah kepada PPK  yang angka partisipasinya paling tinggi. Untuk menghitung angka partisipasi pemilih tentu sangat mudah,  tetapi untuk menentukan perilaku pemiilih atau motivasi penggunaan hak pilih, tentu memerlukan  penelitian dengan metode lain.


Soal implikasi dan  rekomendasi hasil penelitian?
Untuk implikasi teoritis, penelitian perilaku pemilih ini bisa dilanjutkan dengan teori yang lain, misalnya,  adanya penelitian selanjutnya dengan menggunakan “pisau” analisis critical discourse analysis (analisis wacara kritis). Kalau penelitian perilaku pemilih ini hanya berupa  pemetaan atau peng-kategori-an, maka   penelitian selanjutnya bisa dengan metode explanatory (penjelasan).


Saran praktis setelah melakukan hasil penelitian?
Simpulan penting hasil penelitian : lembaga pemilih wajib dibentuk di setiap tingkatan penyelenggara pemilu..