Rabu, 23 Mei 2018

Ini “Universitas” KPU

Ahmad SaparudinTIM  Peneliti  punya latar belakang  pendidikan yang beragam.  Ada sarjana pendidikan dan  sarjana ilmu politik (Sri Astuti Wijaya), sarjana filsafat (Ace Sumirsa Ali), sarjana pendidikan Islam (Apipi), sarjana agama (Islam) dan  sarjana kebijakan publik (Ahmad Saparudin), dan sarjana ilmu komunikasi dan media and political communication  (C.R. Nurdin).

 

Semua pernah menulis karya ilmiah, skripsi atau  tesis. Jadi, Tim Peneliti tidak begitu asing dengan istilah-istilah seperti desaign research, methodology research, qualitative research, quantitative research, paradigm, dan lain-lain.


Mengapa istilah-isitilah yang sebenarnya sudah tidak lagi disentuh sejak lama itu harus hadir  kembali di “Universitas” Komisi Pemilihan Umum? Itulah yang terjadi ketika KPU Kabupaten/Kota khususnya di Provinsi Banten  “disodori”  tugas riset, bahkan dengan tema yang sebenarnya terasa  berat : riset tentang partisipasi pemilih dalam pemilu.


Terasa lebih berat lagi ketika membaca bagian D, halaman 3, tentang metode riset :  ada sumber data, pengolahan data, dan analisis data interpretasi data.


C.R. NurdinSimpulan KPU Kabupaten Lebak khususnya, sesaat setelah mendengarkan penjelasan KPU Provinsi Banten, dalam rapat riset itu, yang disampaikan Bunda Nadia (Hj. Dra. Enan Nadia), KPU menugasi KPU Kabupaten/Kota untuk melakukan penelitian secara ilmiah, membuat karya ilmiah. Apalagi, “Universitas” KPU  ingin membangun tradisi ilmiah sebelum menyusun kebijakan. Jadi, kebijakan yang berbasiskan hasil penelitian.  Bagus juga, tentu saja, karena KPU merupakan lembaga non-kepentingan politik, dan lebih cenderung sebagai lembaga akademik, yang menjunjung tinggi objektivitas.


Tim Peneliti merasa,  ini pekerjaan serius. Oleh karena “beraroma” dan “berirama”  akademik, tadinya mau di-pihak ketiga-kan saja, digarap oleh akademisi yang terbiasa melakukan penelitian. Ini boleh dilakukan, sebagaimana pengarahan KPU Provinsi Banten.


Lebih serius lagi, cobalah telaah  pada nomor 1 sampai 4. Di situ disebutkan adanya pilihan penelitian kualitatif dan kuantitatif bagi KPU kabupaten/kota, dengan segala konsekuensinya masing-masing. Ada participant observation, indepth interview, teknik triangulasi, dan lain-lain. Semua itu riset banget, riset beneran, sedangkan  sebelumnya tidak ada simulasi atau pembekalan penulisan riset oleh KPU.


Sri AstutiHasil rapat internal, baiknya digarap  secara mandiri saja, di samping  KPU Kabupaten Lebak sedang  tidak punya kegiatan penyelenggaraan pilkada, seperti teman-teman di sejumlah KPU kabupaten/kota, juga untuk bernostalgia  ketika susah payah menulis skripsi atau tesis.


Tema penelitian pun dipilih, yakni perilaku pemilih dari sekian tema yang disodorkan KPU. Mengapa perilaku pemilih? Terus terang saja, selain alasan objektif karena perilaku pemilih  penuh tantangan untuk dijelajahi, dan pemilih itu “eksekutor” untuk para calon,  juga alasan subjektifnya  karena  perilaku pemilih itu enak diteliti dengan metode penelitian  kualitatif.


Tim Peneliti  segera  saja menangkap “aroma” kualitatif itu dari salah satu baris pertanyaan dalam konsep riset,  “Sejauh mana pilihan-pilhan itu bersifat rasional?”   Pertanyaan sejauh mana, pastilah kualitatif, bukan pertanyaan “apakah” yang biasanya khas pertanyaan penelitian kuantitatif. Pertanyaan sejauh mana, harus dijawab naratif, tidak seperti pertanyaan apakah yang jawabannya singkat dan padat, misalnya, ya atau tidak, atau sangat setuju, setuju, tidak setuju, dan sangat tidak setuju.


Ace Sumirsa AliTetapi, Tim Peneliti sedikit menyimpang dan menyamping sebetulnya, karena menyebarkan kuisioner lebih luas, dan itu jadi luas, karena se-Kabupaten Lebak. Alasannya, hanya karena Tim Peneliti ingin punya bangunan kata-kata yang cukup banyak sehingga cukup dan cakep untuk ditelaah. Itu saja. Mengapa pula penelitian kualitatif? Terus terang  saja, tiga orang dari lima anggota KPU Kabupaten Lebak itu berbasiskan wartawan, tukang membangun kata-kata, tukang menyunting, menggunting, dan sekaligus membanting kata-kata. Basis penelitian kualitatif itu kata-kata, naskah, hasil wawancara, hasil  observasi, dan bukan angka-angka seperti penelitian kuantitatif.


Terus terang saja, di antara kami ada yang malas, bahkan “mules” kalau sudah berurusan dengan angka-angka (kecuali angka  THR seperti saat behind the scenes atau di balik layar ini ditulis).


Wartawan hanya menulis narasi angka, tidak pernah menulis tumpukan atau deretan angka dalam berita., kecuali jurnalis presisi yang akhir-akhir dikembangkan sejumlah media massa cetak yang cukup besar.


Tetapi,  sebenarnya pula,  pekerjaan KPU penuh angka, seperti pemilih, perolehan  suara, dan karena perbedaan angka itu pula kemudian KPU bisa di-MK-kan.  


ApipiOleh karena menyukai kata-kata, maka tepatlah Tim Peneliti mengambil penelitian kualitatif, lalu ditambah  deskriptif, sehingga jadi kualitatif deskriptif, karena dikaitkan dengan  kebutuhan pemetaan perilaku pemilih sebagai bahan penyusunan kebijakan sosialisasi dan pendidikan pemilih.


Pamungkas. Apa pun dan bagaimana pun hasil penelitian itu , itulah yang sudah kami lakukan sepenuh hati, hati-hati, dan ihlas di hati. KPU Lebak berharap, partisipasi pemilih naik pada pemilu atau pilkada mendatang dengan para pemilihnya yang cerdas plus para calonnya yang berkualitas. KPU,  hakikatnya bukan sekadar penyelenggara,  melainkan juga “produsen” eksekutif dan legislatif di setiap  tingkatan. Maka, sampai di sinilah cerita penelitian di “Universitas” KPU. (Dean Al-Gamereau)